This nice Blogger theme is compatible with various major web browsers. You can put a little personal info or a welcome message of your blog here. Go to "Edit HTML" tab to change this text.
RSS

Rabu, 08 Mei 2013

kuliner sukses

KULINER SUKSES DISEKITAR JALAN KOPO SAYATI SAMPAI SOREANG
Begitu banyak kuliner sukses di sekitar jl.kopo sayati smapai soreang,yang diantaranya adalah :
1. Menikmati Kuliner Mang Haji Donal
Anda penggemar bakso dan ingin menikmati sajian bakso yang rasanya maknyus? Coba datang ke Jalan Raya Katapang No.215 Soreang, Kabupaten Bandung. Lokasinya bisa dilalui ketika Anda keluar dari Tol Kopo kemudian belok kanan menuju arah Pasar Sayati. Terus saja Anda ke arah Lanud Sulaeman lalu di sana ada Jembatan Citarum. Nah, menuju tidak jauh dari Jembatan Citarum menuju arah Soreang (daerah Katapang/Cilampeni), Anda bisa menemukan Bakso Mang Haji Donal. Selain bisa menikmati makanan bakso, di sini juga ada bubur ayam dan menu kuliner lainnya. Sekadar informasi, tempat makan Mang Haji Donal ini sudah ada 7 cabang. Namun pusatnya ya di Katapang tadi. Mungkin Anda yang berwisata ke daerah Ciwidey, bisa mampir dulu di sini.
 
Menu masakan yang disajikan Mang Haji Donal mempunyai ciri khas kekentalan rasa yang menyatu ke dalam makanan. Bakso Mang Haji Donal memiliki rasa yang berbeda bila dibandingkan dengan bakso pada umumnya. Dalam baksonya terdapar bBumbu yang diracik tercampur rata di dalam kuah dan bakso. Sedap banget deh di lidah. Belum lagi harganya yang merakyat, terjangkau semua kalangan. Bakso di sini terasa lebih lembut di lidah yang diracik seimbang dengan tepung dan racikan-racikan khas lainnya.

Baksonya dibuat dari daging unggulan yang diracik dengan bumbu pilihan. Unsur bahan daging memang menjadi rahasianya. Sehingga kesan baksi banyak tepung tidak akan dirasakan di Bakso Mang Haji Donal. Menurut sang pemilik, Rudi Rustandi Donal, di sini juga Anda bisa menikmati bakso plus ceker ayam (pilihan bergantung pemesanan). Jangan lupa, ada juga menu bubur ayam juga menjadi andalan rumah makan ini. Bumbu buburnya berbeda bila dibandingkan dengan bubur ayam yang kebanyakan dijual. Dalam bubur bikinan Mang Haji Donal, rempah-rempahnya berpadu dalam racikan hingga menciptakan rasa yang lezat.
Untuk minuman di sini juga disediakan aneka minuman yang menggoda selera. Namanya pun tidak kalah unik, ada: Es Combo Sonet2, Es Combo ST12, Es Combo Kahitna, Es Combo Nidji, pokoknya diambil dari nama-nama artis dan group band. Masalah harga? Jangan terlalu dirisaukan. Tempat ini cocok dengan isi kantong jika Anda makan bareng keluarga atau teman-teman. Satu porsi bubur ayam harganya Rp9.500. Sementara untuk menu bakso berkisar antara Rp8.000 hingga Rp20.000 per porsi. Untuk minuman, harganya bervariasi.
 

2.Surabi PA'IS

sorabi Pa'is

Berjalan-jalan di Bandung tak lengkap rasanya jika tidak menyantap aneka makanan termasuk makanan tradisional. Banyak sekali jenis makanan tradisional yang hadir di kota ini. Salah satunya adalah surabi. kue yang dahulu identik dengan oncom atau gula merah cair sebagai pelengkap rasanya, kini hadir dengan aneka varian rasa. 

Surabi Pa’is yang berdiri sejak tahun 2006 hadir menyajikan kue surabi dalam 23 varian rasa yang lezat. Tak hanya rasa original seperti oncom dan kinca, Surabi Pa’is menawarkan rasa baru yang tak kalah nikmatnya. Sebut saja rasa blueberry, lemon dan stroberi yang tidak pernah ada di tempat lain.
Kenikmatan sausnya sangat terjamin karena sang pemilik usaha sengaja memilih buah-buahan impor dari Switzerland. Alasannya bukan masalah kecintaan terhadap produk lokal yang berkurang tetapi karena murni faktor kualitas bahan baku.
Perbedaan surabi ini tidak hanya terletak pada rasanya saja, tekstur kue yang lembut menjadi ciri khas yang membuatnya terkenal. Jika surabi yang lain terasa sangat padat atau bahkan bantat, surabi Pa’is justru terasa begitu soft di lidah namun tidak lembek. Hal tersebut ditandai dengan tekstur serat yang terlihat dari potongan surabinya.
Jika rasanya sudah demikian nikmat dan beda, lalu ada hal lain yang ternyata berbeda juga dari tempat makan surabi yang lainnya. Jangan pernah berharap anda bisa makan surabi Pa’is dengan menggunakan pisau, karena disini anda justru akan disodorkan kapak muntuk (mini) menyantap si bundar yang lezat. Kapak yang dimaksud tentunya berbentuk mini, lucu dan unik sehingga memberikan sensasi makan yang berbeda. Kapak kecil ini memang tidak akan anda temukan di tempat makan mana pun.
Kapak Mini
Banyak di antara pengunjung tersenyum saat surabi pesanannya tiba di meja. Senyum mereka muncul setelah melihat kapak mini yang juga diletakan di atas piring saji. Irman Budiman, sang pemilik Surabi Pa’is mengatakan, kapak inilah yang seakan menghipnotis pengunjung untuk datang kembali ke sini. Sambil tertawa Irman mengatakan, dalam waktu dekat akan mengubah kapak ini dengan pegangannya berbentuk tokoh wayang. Unik bukan?!
Ide pembuatan kapak mini dengan pegangan tokoh wayang ini muncul karena ketertarikan pengunjung surabi Pa’is yang ingin membawa pulang kapaknya. Kapak tersebut nantinya bisa dibawa pulang pengunjung sebagai oleh-oleh yang bisa dibeli secara terpisah dan hanya ada di Surabi Pa’is. Banyak sekali keunikan yang didapatkan di Surabi Pa’is yang terletak di Jl. Sawunggaling no.2 ini.
Di sebuah foodcourt yang representatif, surabi Pa’is ternyata memiliki penggemar yang tidak sedikit. Pengunjung yang berdatangan kerap memilih surabi Pa’is di tengah acara jalan-jalan dan santai mereka. Tempat yang sangat nyaman menambah nikmat suasana sore wisatawan yang berkunjung ke Bandung.
Dengan demikian tak aneh jika Surabi Pa’is menjadi pilihan favorit pengunjung. Popularitasnya memang sangat cepat, dalam satu hari saja pengelola bisa menghabiskan 15 kg bahan baku pembuat surabi. bahkan untuk memenuhi permintaan pelanggannya yang semakin meningkat, dalam waktu dekat Surabi Pa’is akan menambah outletnya di Bandung yaitu di Jl. Riau dan Pasteur dan luar kota seperti Cimahi, Cirebon dan Jakarta.
Kualitas menjadi perhatian utama yang dilakukan sang pemilik usaha. Selain penggunaan bahan-bahan yang baik, perlakuan proses produksi yang higienis juga menjadi perhatiannya. Dengan barang-barang yang serba canggih dan tanpa sentuhan tangan langsung menjadikan Surabi Pa’is begitu higienis dan terjamin kesehatannya. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, Suarabi Pais menjadi satu-satunya usaha surabi yang mendapatkan sertifikat halal dari MUI.
Jika anda berjalan-jalan di kota Bandung dan hasrat menikmati surabi tiba-tiba muncul, sempatkan diri anda untuk membuktikan kelezatan Surabi Pa’is. Tokoh nasional Yusuf Kalla serta sederet artis seperti Charly ST 12, Regina, Rina Gunawan, dan kang Ibing (alm) sangat appreciate terhadap surabi yang pertama berdiri di Kopo Sayati ini. Mereka berpendapat jika surabi Pa’is memang berbeda dari yang sudah ada sebelumnya. Rasakan bedanya euy…!

3. BAJIGUR DURIAN

 Bajigur dan bandrek adalah minuman khas Sunda Jawa Barat. Kedua minuman ini berbeda tapi banyak yang sering ketuker. Bandrek adalah minuman panas dari jahe dan gula merah diisi serutan kelapa dan kolang-kaling. Bisa juga ditambah santan atau susu kental manis, sesuai selera. Bajigur juga minuman panas dari santan dengan sedikit rasa jahe dan dimaniskan dengan gula merah. Kadang-kadang dicampur dengan sedikit kopi. Tapi, bajigur tidak diisi serutan kelapa atau kolang-kaling.
Nah, kalo kalian yang sedang akan menuju arah ciwidey mau ke kawah putih kah ataw mau ke Soreang kah, pasti melewati warung ini di pinggir jalan.


Bajigur Durian Asoy , Jl. Terusan Kopo km 10,5-11.5 Ketapang Cilampeni , Soreang
 Tulisannya "memerintah" untuk dicoba ...masa gak dicobaaa *alibi empunya blog*


berbincangan dengan pegawai warungnya diketahui kalau Duriannya berasal dari Semarang, dan Durian yang dijajarkan ini menyambut para pengguna jalan yang melintas dan kemudian menepi karena ingin mencoba, seperti Aku hehehe.



Masuk ke warung ini selain disuguhi durian-durian yang berjajar kita bisa langsung liat suasana dapur (gambar di atas) yang aromanya sudah semerbak durian *enduss endusss*. 


Mari memesan dulu.... *menengok menu*...ahhhh apa dicoba semua-emuahnya yiaa *kalap*


Di warung ini, tersedia bandrek dan bajigur durian, dengan menambahkan dua butir durian ke dalam gelas yang kemudian dituangi bandrek atau bajigur (gambar di bawah) ....aku memesan Bajigur Durian biar panas.


Yang juara bajigur di sini ada yang dinginnya alias pake es...tapi tetep bikin hangat ke badan pas di minum =)....seruuuw. Bajigur & Bandrek masing-masing harganya cuman Rp 7.500,-





Minuman Bajigur Durian kuhhh siap disesapiiii *gambar di atas* , liat ituh duriannya....





 Sajian istimewa lainnya adalah durian bakar yang disajikan dengan ketan kukus *gambar di atas* bisa dinikmati dengan harga Rp 12.500,-



Suka kelapa? suka durian? maka Es kelapa Durian ini cocok buat kamuh, harga Rp 7.500,-


 hati-hati mabuk Durian kombinasi Durian bakar + Bajigur Durian = Mabuk Durian ihihihi.



setelah mencicipi inih- ituh hayo jangan lupa bayar!! untuk ukuran warung pinggir jalan, metode pembayarannya sudah modern yah *tercegang dan terpesona*



 Tagihan kalap coba inih-ituh *geleng-geleng kepala* untung akuh ditraktir =D *terharu*


 

komplek perkantoran


KOMPLEK PERKANTORAN WILAYAH BANDUNG


Bandung lahir melalui Piagam Sultan Agung Mataram, yaitu pada tanggal 9 bulan Muharram tahun Alif atau sama dengan hari sabtu tanggal 20 April 1641 Masehi. Bupati pertamanya adalah Tumenggung Wiraangunangun (1641-1681 M). Dari bukti sejarah tersebut ditetapkan bahwa 20 April sebagai Hari Jadi Kabupaten Bandung. Jabatan bupati kemudian digantikan oleh Tumenggung Nyili salah seorang putranya. Namun Nyili tidak lama memegang jabatan tersebut karena mengikuti Sultan Banten. Jabatan bupati kemudian dilanjutkan oleh Tumenggung Ardikusumah, seorang Dalem Tenjolaya (Timbanganten) pada tahun 1681-1704.
Selanjutnya kedudukan Bupati Kabupaten Bandung dari R. Ardikusumah diserahkan kepada putranya R. Ardisuta yang diangkat tahun 1704 setelah Pemerintah Hindia Belanda mengadakan pertemuan dengan para bupati se-Priangan di Cirebon. R. Ardisuta (1704-1747) terkenal dengan nama Tumenggung Anggadiredja I setelah wafat dia sering disebut Dalem Gordah. sebagai penggantinya diangkat putra tertuanya Demang Hatapradja yang bergelar Anggadiredja II (1707-1747).
Pada masa Pemerintahan Anggadiredja III (1763-1794) Kabupaten Bandung disatukan dengan Timbanganten, bahkan pada tahun 1786 dia memasukkan Batulayang ke dalam pemerintahannya. Juga pada masa Pemerintahan Adipati Wiranatakusumah II (1794-1829) inilah ibu kota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Karapyak (Dayeuhkolot) ke tepi sungai Cikapundung atau alun-alun Kota Bandung sekarang. Pemindahan ibu kota itu atas dasar perintah dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels tanggal 25 Mei 1810, dengan alasan daerah baru tersebut dinilai akan memberikan prospek yang lebih baik terhadap perkembangan wilayah tersebut.Raden Aria Adipati Wiranatakusumah IV (masa jabatan 1846-1874) dan pengikutnya (sekitar tahun 1870)
Setelah kepala pemerintahan dipegang oleh Bupati Wiranatakusumah IV (1846-1874), ibu kota Kabupaten Bandung berkembang pesat dan beliau dikenal sebagai bupati yang progresif. Dialah peletak dasar master plan Kabupaten Bandung, yang disebut Negorij Bandoeng. Tahun 1850 dia mendirikan pendopo Kabupaten Bandung dan Mesjid Agung. Kemudian dia memprakarsai pembangunan Sekolah Raja (Pendidikan Guru) dan mendirikan sekolah untuk para menak (Opleiding School Voor Indische Ambtenaaren). Atas jasa-jasanya dalam membangun Kabupaten Bandung di segala bidang beliau mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Hindia Belanda berupa Bintang Jasa, sehingga masyarakat menjulukinya dengan sebutan Dalem Bintang.
Di masa pemerintahan R. Adipati Kusumahdilaga, rel kereta api mulai dibangun, tepatnya tanggal 17 Mei 1884. Dengan masuknya rel kereta api ini ibu kota Bandung kian ramai. Penghuninya bukan hanya pribumi, bangsa Eropa, dan Cina pun mulai menetap di ibu kota, dampaknya perekonomian Kota Bandung semakin maju. Setelah wafat penggantinya diangkat R.A.A. Martanegara, bupati inipun terkenal sebagai perencana kota yang jempolan. Martanegara juga dianggap mampu menggerakkan rakyatnya untuk berpartisipasi aktif dalam menata wilayah kumuh menjadi permukiman yang nyaman. Pada masa pemerintahan R.A.A. Martanegara (1893-1918) ini atau tepatnya pada tanggal 21 Februari 1906, Kota Bandung sebagai ibu kota Kabupaten Bandung berubah statusnya menjadi Gementee (Kotamadya).
http://bits.wikimedia.org/static-1.22wmf2/skins/common/images/magnify-clip.png
R. A. A. Wiranatakoesoema V (Dalem Haji, masa jabatan 1912-1931 dan 1935-1945) sebagai wakil Volksraad di Congres van Prijaji-Bond (Kongres Perhimpunan Priyayi) di Surakarta tahun 1929
Periode selanjutnya Bupati Bandung dijabat oleh Aria Wiranatakusumah V (Dalem Haji) yang menjabat selama 2 periode, pertama tahun 1912-1931 sebagai bupati yang ke-12 dan berikutnya tahun 1935-1945 sebagai bupati yang ke-14. Pada periode tahun 1931-1935 R.T. Sumadipradja menjabat sebagai Bupati ke-13. Selanjutnya bupati ke-15 adalah R.T.E. Suriaputra (1945-1947) dan penggantinya adalah R.T.M. Wiranatakusumah VI alias Aom Male (1948-1956), kemudian diganti oleh R. Apandi Wiriadipura sebagai bupati ke-17 yang dijabatnya hanya 1 tahun (1956-1957).
Bupati berikutnya adalah Letkol. R. Memet Ardiwilaga (1960-1967). Kemudian pada masa transisi (Orde Lama ke Orde Baru) dilanjutkan oleh Kolonel Masturi. Pada masa Pimpinan Kolonel R.H. Lily Sumantri tercatat peristiwa penting yaitu rencana pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung yang semula berada di Kotamadya Bandung ke Wilayah Hukum Kabupaten Bandung, yaitu daerah Baleendah. Peletakan batu pertamanya pada tanggal 20 April 1974, yaitu pada saat Hari Jadi Kabupaten Bandung yang ke-333. Rencana pemindahan ibu kota tersebut berlanjut hingga jabatan bupati dipegang oleh Kolonel R. Sani Lupias Abdurachman (1980-1985).
Atas pertimbangan secara fisik geografis, daerah Baleendah tidak memungkinkan untuk dijadikan sebagai ibu kota kabupaten, maka ketika jabatan bupati dipegang oleh Kolonel H.D. Cherman Affendi (1985-1990), ibu kota Kabupaten Bandung pindah ke lokasi baru yaitu Kecamatan Soreang. Di tepi Jalan Raya Soreang, tepatnya di Desa Pamekaran inilah dibangun Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung seluas 24 hektare, dengan menampilkan arsitektur khas gaya Priangan. Pembangunan perkantoran yang belum rampung seluruhnya dilanjutkan oleh bupati berikutnya yaitu Kolonel H.U. Djatipermana, sehingga pembangunan tersebut memerlukan waktu sejak tahun 1990 hingga 1992.
Tanggal 5 Desember 2000, Kolonel H. Obar Sobarna, S.I.P. terpilih oleh DPRD Kabupaten Bandung menjadi Bupati Bandung dengan didampingi oleh Drs. H. Eliyadi Agraraharja sebagai Wakil Bupati. Sejak itu, Soreang betul-betul difungsikan menjadi pusat pemerintahan. Pada tahun 2003 semua aparat daerah, kecuali Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Dinas Kebersihan, Kantor BLKD, dan Kantor Diklat, sudah resmi berkantor di kompleks perkantoran Kabupaten Bandung. Pada periode pemerintahan Obar Sobarna, yang pertama dibangun adalah Stadion Olahraga , yakni Stadion Si Jalak Harupat. Stadion ini merupakan stadion bertaraf internasional yang menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Bandung. Selain itu, berdasarkan aspirasi masyarakat yang diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, Kota Administratif Cimahi berubah status menjadi kota otonom.
Tanggal 5 Desember 2005, Obar Sobarna menjabat Bupati Bandung untuk kali kedua didampingi oleh H. Yadi Srimulyadi sebagai wakil bupati, melalui proses pemilihan langsung. Di masa pemerintahan yang kedua ini, berdasarkan dinamika masyarakat dan didukung oleh hasil penelitian dan pengkajian dari 5 perguruan tinggi, secara yuridis terbentuklah Kabupaten Bandung Barat bersamaan dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Bandung Barat di Provinsi Jawa Barat. Ibu kota Kabupaten Bandung Barat terletak di Kecamatan Ngamprah). Bupati Bandung Barat masa jabatan 2008-2013 adalah Abubakar.
CONTOH KOMPLEK PERKANTORAN WILAYAH SOREANG
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwW1dHNKskMzijN_4bp0ADHLgd4_0waM3eYpADGg6YVTGtYRBnCWIl2rJVZaPmCdzjoUugUkL4w3xkCa3TDxVXgDJnyA0dO1aZ3Okte-c7K5sZlOrsKoq1SKS2E3vW_itkQjSzZJZF9rM/s320/so-001.jpg
SOREANG (GM) - Pemerintah Kabupaten Bandung sedang merevisi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Soreang. Selanjutnya RDTR hasil revisi akan dikukuhkan dalam peraturan daerah (perda) dan peraturan bupati (perbup).

"RDTR yang berlaku sekarang sudah lama disusunnya namun belum pernah dibuatkan perdanya. Oleh karena itulah setelah RDTR Kota Soreang direvisi akan dikukuhkan dengan perda," kata Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Dinas Perumahan, Penataan Ruang, dan Kebersihan (Dispertasih) Kabupaten Bandung, Budiharjo, belum lama ini.

Menurutnya, RDTR Kota Soreang perlu direvisi karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan terkini. Ia mengatakan, Pemkab Bandung sudah mempersiapkan berbagai program penataan ruang Kota Soreang. "Saat ini Dispertasih sedang membuat animasi Kota Soreang ke depan. Dalam animasi itu akan tergambarkan secara detail sampai ke setiap sudut," katanya.

Upaya menata Kota Soreang sudah terlihat dari pembangunan taman kota di Kota Soreang. Pemkab Bandung membangun dua taman kota, satu di depan kompleks perkantoran dan satunya lagi di daerah sekitar Desa Cingcin. "Penataan Kota Soreang masih akan berlanjut dengan pembangunan taman kota di daerah segitiga Warung Lobak," ungkapnya.

Soreang tumbuh

Secara terpisah, Ketua Ormas Baraya Soreang, Warmin Suhadi mengatakan, sejak dipindahkan dari Baleendah, ibu kota Kabupaten Bandung yang kini berada di Soreang telah terjadi pertumbuhan pembangunan cukup signifikan. Salah satunya pembangunan Stadion Si Jalak Harupat dan Gedung Kesenian.

"Keberadaan Stadion Si Jalak Harupat mampu mengangkat nama Soreang lewat olahraga. Begitu pun dengan gedung kesenian diharapkan seni dan budaya lokal terangkat," kata Warmin yang tinggal di Kampung Pajagalan, Desa Karamatmulya, Kecamatan Soreang.

jajanan tradisional

Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info

Serabi

  SERABI Serabi merupakan salah satu makanan ringan atau jajanan pasar yang berasal dari Indonesia. Serabi serupa dengan pancake (pannekoek atau pannenkoek) namun terbuat dari tepung beras (bukan tepung terigu) dan...

Kue serabi dengan kuah gula manis
Serabi (kadang disebut Surabi) merupakan jajanan pasar tradisional yang berasal dari Indonesia, ada dua jenis serabi, yaitu serabi manis yang menggunakan kinca dan serabi asin dengan taburan oncom yang telah dibumbui diatasnya. Di Bandung, serabi biasa dijajakan di pagi hari dan dimasak menggunakan tungku sehingga menghasilkan rasa yang khas. Kadangkala telur ayam yang telah dikocok ditambahkan keatas adonan surabi yang sedang dimasak. Seiring dengan perkembangan zaman, banyak yang terus berinovasi dengan menambahkan berbagai topping seperti sosis, keju, maupun mayones yang tujuannya untuk mematahkan asumsi bahwa serabi adalah makanan yang terkesan rendahan. Tempat yang menyajikan serabi dengan berbagai variasi rasa tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Bogor.

serabi ini banyak fariannya lhooo, jadi tmen temen semua ga bakalan bosen deh mskipun setiap hari makan makanan yang namanya serabi iniiiiii.......... jamin mantap lagi + yang pasti bergiziiiiii ...

ni disini saya akan melihatkan beberapa farian rasa surabi, jajanan tradisional yang modern....

serabi dengan oncom




serabi dengan gula strawbwrry dan kopi


serabi dengan sosis


serabi dengan seres dan kejuu


serabi kejjuuu...


serabi dengan mata sapiii





nah lhooo, tergiurkan dengan surabi yang ada.. itu siyh baru sebagian.. yang lainnya adda banyak lagi yang bakal temen temen lihat diluar sanaaaaaaaaaa......
makin banyak yang kreatif, makin banyak pula varian surabi iniiiii... hhehehe :)